Banyuwangi Tawarkan Lebih dari Kawah Ijen


Banyuwangi, Juli 2026 — Selama ini, banyak perjalanan ke Banyuwangi dimulai dengan satu tujuan: mendaki Kawah Ijen untuk menyaksikan fenomena blue fire. Setelah itu, sebagian wisatawan melanjutkan perjalanan menuju Bali.

Padahal, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa tersebut memiliki cukup banyak alasan untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama. Dalam beberapa hari, perjalanan dapat berubah dari kawasan vulkanik menuju hutan trembesi, savana, perkebunan, desa adat, pantai, hingga dunia bawah laut di perairan antara Banyuwangi dan Bali Barat.

Peluang itu semakin terbuka seiring meningkatnya jumlah kunjungan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat wisatawan nusantara bertambah dari 3,28 juta orang pada 2024 menjadi 3,50 juta orang pada 2025. Pada periode yang sama, jumlah wisatawan mancanegara meningkat dari sekitar 122.900 menjadi hampir 167.000 orang.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa Banyuwangi semakin dikenal sebagai tujuan wisata. Tantangannya kini bukan hanya menarik orang datang, tetapi juga membuat mereka menjelajahi lebih banyak tempat dan memperpanjang lama tinggal.

Lanskap yang Berubah dalam Satu Perjalanan Kawah Ijen masih menjadi magnet utama Banyuwangi. Destinasi ini dikenal dengan blue fire, fenomena yang terjadi ketika gas belerang bersuhu tinggi keluar dari celah kawah lalu terbakar saat bersentuhan dengan oksigen.

Pendakian biasanya dimulai saat hari masih gelap. Setelah menyaksikan api biru, wisatawan menunggu cahaya pagi membuka pemandangan danau kawah berwarna hijau kebiruan serta dinding vulkanik di sekelilingnya. Kawasan Ijen juga menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark sejak 2023.

Beberapa jam perjalanan dari kawasan pegunungan, suasananya sudah berubah.
De Djawatan menghadirkan deretan pohon trembesi berukuran besar yang membentuk kanopi alami. Akar dan cabang yang menjuntai memberi kawasan ini suasana menyerupai hutan dalam film fantasi.

Di Taman Nasional Baluran, pemandangan berganti menjadi hamparan Savana Bekol dengan Gunung Baluran di kejauhan. Kawasan ini juga memiliki hutan evergreen, Pantai Bama, dan mangrove yang menjadi habitat berbagai satwa liar.

Pilihan lain terdapat di Perkebunan Kalibendo, yang dapat dijelajahi menggunakan kendaraan 4WD melewati kawasan kopi, cengkeh, dan karet. Menjelang sore, perjalanan dapat diteruskan ke perbukitan Kawah Wurung untuk menikmati matahari terbenam.

Dalam satu hari, lanskap Banyuwangi dapat berubah dari perkebunan yang sejuk menjadi perbukitan terbuka tempat cahaya sore jatuh di atas padang rumput.
Budaya Osing yang Tetap Hidup
Di antara perjalanan alam, Desa Adat Osing Kemiren menawarkan pengalaman berbeda. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat rumah tradisional, tetapi juga mengenal kehidupan masyarakat Osing yang masih mempertahankan budaya dan kebiasaannya.

Pengunjung dapat menikmati kopi yang diolah secara tradisional, mencicipi makanan lokal, melihat pertunjukan seni, atau berinteraksi langsung dengan warga. Pada waktu tertentu, desa ini menjadi lokasi berbagai agenda budaya, seperti Ngopi Sepuluh Ewu, Tumpeng Sewu, dan Barong Ider Bumi.

Kemiren menunjukkan bahwa budaya tidak harus hadir sebagai pertunjukan yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Tradisi tetap berlangsung di rumah, dapur, ruang pertemuan warga, dan berbagai kegiatan yang diwariskan lintas generasi.

Ketapang Membuka Jalur Wisata Bahari
Posisi Banyuwangi di tepi Selat Bali membuka peluang wisata bahari yang belum selalu masuk dalam rencana perjalanan wisatawan.

Dari kawasan Ketapang, perjalanan laut dapat diarahkan menuju Pulau Tabuhan, Pulau Menjangan, dan perairan Taman Nasional Bali Barat. Pilihan ini memungkinkan wisatawan menggabungkan perjalanan ke pegunungan, desa adat, dan bawah laut dalam satu kunjungan.

Pulau Tabuhan menawarkan pantai berpasir putih dan perairan jernih. Sementara itu, Pulau Menjangan dikenal dengan dinding karang yang turun dari perairan dangkal menuju laut lebih dalam.
Di antara terumbu karang dan kipas laut, penyelam dapat menjumpai gerombolan jackfish dan fusilier, batfish, penyu, belut moray, lionfish, serta nudibranch. Pada kondisi tertentu, barracuda, pari, dan hiu karang juga dapat terlihat, meski perjumpaan tetap bergantung pada musim dan keadaan laut.

Potensi tersebut mulai dimanfaatkan oleh pelaku wisata di kawasan Ketapang melalui paket perjalanan yang menghubungkan destinasi darat, budaya, dan aktivitas bahari. Salah satunya adalah Ketapang Indah Hotel, yang berada di tepi Selat Bali dan memiliki akses menuju sejumlah titik keberangkatan wisata laut.
“Banyak tamu awalnya datang ke Banyuwangi hanya untuk melihat Kawah Ijen. Setelah kami bantu menyusun itinerary, mereka baru menyadari masih banyak destinasi lain yang layak dijelajahi.

Setiap kawasan menawarkan pengalaman yang berbeda, sehingga Banyuwangi sebenarnya bisa dinikmati selama beberapa hari,” ujar Veronica, pemilik Ketapang Indah Hotel.

Menurut Veronica, wisatawan kini cenderung mencari perjalanan yang lebih mudah direncanakan dan tidak terputus-putus. Karena itu, keterhubungan antara destinasi, akomodasi, transportasi, dan operator wisata menjadi semakin penting.
Pendekatan tersebut tidak berarti hotel harus menjadi pusat perjalanan. Perannya lebih sebagai penghubung agar wisatawan dapat mengakses beberapa jenis pengalaman tanpa harus menyusun seluruh kebutuhan secara terpisah.

Ketapang Indah Hotel, misalnya, menawarkan perjalanan menuju destinasi darat seperti De Djawatan, Baluran, Kemiren, Kalibendo, dan Kawah Wurung, kemudian melanjutkannya dengan aktivitas bahari menuju Tabuhan dan Menjangan. Rangkaian tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pelaku akomodasi dapat membantu wisatawan menjelajahi Banyuwangi dengan waktu yang lebih efisien.

Menginap, Menikmati Sunrise, dan Mengenal Cita Rasa Lokal
Pengalaman wisata Banyuwangi tidak berhenti ketika pengunjung kembali dari gunung, desa, atau laut. Akomodasi, suasana pesisir, dan makanan lokal ikut membentuk kesan perjalanan.

Berada tepat di tepi pantai, Ketapang Indah Hotel menawarkan pemandangan Selat Bali dan suasana taman tropis. Dari area pantai hotel, tamu dapat menyaksikan matahari terbit pada pagi hari, salah satu pengalaman yang lekat dengan julukan Banyuwangi sebagai The Sunrise of Java.

Kehadiran akomodasi yang bersih, rapi, dan terawat menjadi penting bagi wisatawan yang menjalani perjalanan padat. Pelayanan yang responsif juga membantu, terutama ketika tamu harus berangkat dini hari menuju Ijen atau menyiapkan aktivitas bahari.

Kuliner menjadi bagian lain yang memperkuat pengalaman daerah. Rujak soto mempertemukan bumbu kacang yang manis-pedas dengan kuah soto hangat. Pecel pithik memadukan ayam dengan kelapa parut berbumbu dan erat dengan tradisi masyarakat Osing. Sementara itu, ayam gobyos dikenal melalui rasa pedasnya.

Sejumlah menu lokal tersebut juga disajikan di Ketapang Indah Hotel, bersama ayam betutu yang mencerminkan kedekatan geografis dan pertukaran cita rasa antara Banyuwangi dan Bali.
Bagi wisatawan, makanan lokal memberi cara lain untuk mengenal suatu tempat. Perjalanan tidak hanya tersimpan melalui foto-foto destinasi, tetapi juga melalui rasa yang melekat setelah kunjungan berakhir.

Pada periode tertentu, tamu Ketapang Indah Hotel juga dapat mengikuti kegiatan pelepasan tukik di kawasan pantai hotel. Aktivitas tersebut memperkenalkan wisatawan pada upaya menjaga kehidupan dan ekosistem pesisir, sekaligus memberi dimensi edukasi pada pengalaman menginap.

Banyuwangi memang masih memiliki Kawah Ijen sebagai ikon terkuat. Namun, perkembangan pariwisatanya menunjukkan bahwa daerah ini menawarkan cerita yang lebih panjang daripada satu pendakian untuk menyaksikan blue fire.

Hutan, savana, perkebunan, budaya Osing, kuliner lokal, dan akses menuju dunia bawah laut memberi wisatawan lebih banyak alasan untuk tinggal. Ke depan, keberhasilan pariwisata Banyuwangi tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang yang datang, tetapi juga oleh kemampuan destinasi dan pelaku industri menghubungkan berbagai pengalaman tersebut secara nyaman dan bertanggung jawab. 


Artikel ini telah tayang di 
Kabar Box

Editor : Qurrota A'yun 


Post a Comment

Previous Next

نموذج الاتصال